KONSEP DOA DALAM TAFSIR AL-AZHAR (ANALISIS SURAH GHAFIR AYAT 60)
Abstract
This research examines the idea of prayer from the standpoint of Buya Hamka's Tafsir Al-Azhar, concentrating on the examination of QS Ghafir/40:60. This study raises questions about the nature of prayer responding because of the discrepancy between Allah's promise and certain Muslims' actual experiences. With an emphasis on the interpretation of QS Ghafir/40:60 and its applicability to the lives of modern Muslims, this research attempts to examine the idea of prayer in Tafsir Al-Azhar by Buya Hamka. This study was conducted in a library using the Tahlili interpretation technique and a descriptive-analytical methodology. The findings demonstrate that Buya Hamka views prayer not just as a request but also as the center of worship, a way to submit, and a way to grow spiritually that can undermine conceit. The entire understanding of prayer answering is that it is not always instantaneous, but it might take the form of protection from evil, a delay, or a substitution with something better. This interpretation is crucial to addressing modern Muslims' spiritual issues and bolstering faith in Allah's wisdom in each prayer
Penelitian ini mengkaji gagasan tentang doa dari sudut pandang Tafsir Al-Azhar karya Buya Hamka, dengan fokus pada kajian ayat QS Ghafir/40:60. Studi ini mengangkat pertanyaan tentang hakikat terkabulnya doa karena adanya perbedaan antara janji Allah dan pengalaman nyata sebagian Muslim. Dengan penekanan pada interpretasi ayat QS Ghafir/40:60 dan penerapannya dalam kehidupan Muslim modern, penelitian ini berupaya mengkaji gagasan tentang doa dalam Tafsir Al-Azhar karya Buya Hamka. Studi ini dilakukan di sebuah perpustakaan menggunakan teknik interpretasi Tahlili dan metodologi deskriptif-analitis. Temuan menunjukkan bahwa Buya Hamka memandang doa bukan hanya sebagai permohonan tetapi juga sebagai pusat ibadah, cara untuk tunduk, dan cara untuk bertumbuh secara spiritual yang dapat mengurangi kesombongan. Seluruh pemahaman tentang terkabulnya doa adalah bahwa hal itu tidak selalu instan, tetapi mungkin berupa perlindungan dari kejahatan, penundaan, atau penggantian dengan sesuatu yang lebih baik. Interpretasi ini sangat penting untuk mengatasi masalah spiritual umat Islam modern dan memperkuat iman kepada hikmah Allah dalam setiap doa.
Kata Kunci:
Doa, Tafsir Al-Azhar, Buya Hamka, QS Ghafir ayat 6






