INTERNALISASI BUDAYA LOKAL DALAM PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SDN 194 INPPRES SOSSOE KABUPATEN MAROS
Abstract
Muhammad S, 22062014004. This study seeks to elucidate the process of internalising local cultural values within Islamic Religious Education (PAI) instruction, together with the facilitating and obstructive elements at SDN 194 Inpres Sossoe, Maros Regency. The research utilises a qualitative methodology with a descriptive case study framework. Data were gathered by participant observation, semi-structured interviews with educators and educational personnel, and document analysis. The data analysis adhered to the Miles and Huberman paradigm, encompassing data reduction, data display, and conclusion drawing, with validity assured through source and technique triangulation, as well as member checking. The findings reveal that the integrated aspects of local culture encompass traditions of mutual cooperation, communal religious rituals, utilisation of the local language, ethical interactions (sipakatau, sipakainge, sipakalebbi), and regional arts and customs. The internalisation process comprises three stages: value transformation (initial comprehension dissemination), value transaction (bilateral engagement through discourse and contemplation), and transinternalization (incorporating values into instinctive student behaviours).
Muhammad S, 22062014004. Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan proses internalisasi nilai-nilai budaya lokal dalam pengajaran Pendidikan Agama Islam (PAI), beserta unsur-unsur yang memfasilitasi dan menghambatnya di SDN 194 Inpres Sossoe, Kabupaten Maros. Penelitian ini menggunakan metodologi kualitatif dengan kerangka studi kasus deskriptif. Data dikumpulkan melalui observasi partisipan, wawancara semi-terstruktur dengan pendidik dan tenaga pengajar, serta analisis dokumen. Analisis data mengikuti paradigma Miles dan Huberman, yang meliputi reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan, dengan validitas yang dijamin melalui triangulasi sumber dan teknik, serta pengecekan anggota. Temuan menunjukkan bahwa aspek-aspek terintegrasi dari budaya lokal meliputi tradisi kerja sama timbal balik, ritual keagamaan komunal, penggunaan bahasa daerah, interaksi etis (sipakatau, sipakainge, sipakalebbi), dan seni serta adat istiadat daerah. Proses internalisasi terdiri dari tiga tahap: transformasi nilai (penyebaran pemahaman awal), transaksi nilai (keterlibatan bilateral melalui wacana dan kontemplasi), dan transinternalisasi (mengintegrasikan nilai-nilai ke dalam perilaku naluriah siswa) dan faktor penghubung dan faktor penghambat.
Kata Kunci:
Internalisasi, budaya lokal, pendidikan agama islam, karakter siswa, kearifan lokal, maros






