ANJURAN MENIKAH DALAM QS. AL-NŪR/24:32 STUDI ANALISIS KOMPARATIF PENAFSIRAN PERSPEKTIF MA’NĀ-CUM- MAGHZĀ SAHIRON SYAMSUDDIN DAN TAFSIR AL-MIṢBĀḤ QURAIS SHIHAB
Abstract
Marriage in Islam is a sacred institution facing multidimensional challenges in the contemporary era, such as delayed marriage and economic pressures. QS. Al-Nūr/24:32 presents a normative response, but its understanding in society is often reduced to an individual burden without addressing structural root causes. This study aims to compare the interpretation of this verse through two analytical frameworks: Sahiron Syamsuddin's Ma‘nā-cum-Maghzā Hermeneutics and Quraish Shihab's Tafsir Al-Miṣbāḥ. Using a qualitative method with a library research approach and descriptive-comparative (muqaran) method, this study finds that Sahiron Syamsuddin separates the historical meaning (ma'nā) linked to slave emancipation and Madinan social solidarity from the universal message (maghzā) in the form of social justice, destigmatization of poverty, and the collective responsibility of the state. Conversely, Quraish Shihab, with an adabī ijtima'ī approach, emphasizes the communal responsibility of guardians and society, and interprets God's promise of sustenance as a theological-psychospiritual guarantee requiring effort. The fundamental difference lies in the hermeneutical orientation: Sahiron is productive-critical, implying public policy advocacy, while Quraish Shihab is reproductive-adaptive, focusing on strengthening family institutions and spirituality.
Pernikahan dalam Islam merupakan institusi sakral yang menghadapi tantangan multidimensi di era kontemporer, seperti fenomena penundaan usia pernikahan delayed marriage dan tekanan ekonomi. QS. Al-Nūr/24:32 hadir sebagai respons normatif, namun pemahamannya di masyarakat sering kali tereduksi menjadi beban individual tanpa menyentuh akar masalah struktural. Penelitian ini bertujuan untuk mengomparasikan penafsiran ayat tersebut melalui dua pisau analisis: Hermeneutika Ma‘nā-cum-Maghzā Sahiron Syamsuddin dan Tafsir Al-Miṣbāḥ Quraish Shihab. Menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kepustakaan (library research) dan metode deskriptif-komparatif (muqaran), penelitian ini menemukan bahwa Sahiron Syamsuddin memisahkan makna historis (ma'nā) yang lekat dengan emansipasi budak dan solidaritas sosial Madinah, dari pesan universal (maghzā) berupa keadilan sosial, penghapusan stigma kemiskinan, dan tanggung jawab kolektif negara. Sebaliknya, Quraish Shihab dengan corak adabī ijtima'ī menekankan tanggung jawab komunal para wali dan masyarakat, serta memaknai janji rezeki Allah sebagai jaminan teologis-psikospiritual yang menuntut ikhtiar. Perbedaan mendasar terletak pada orientasi hermeneutik: Sahiron bersifat produktif-kritis yang berimplikasi pada advokasi kebijakan publik, sedangkan Quraish Shihab bersifat reproduktif-adaptif yang berfokus pada penguatan institusi keluarga dan spiritualitas.
Kata Kunci:
Anjuran Menikah; Komparatif; Ma‘nā-cum-Maghzā; Tafsir Al-Miṣbāḥ; Sahiron Syamsuddin; Quraish Shihab






