Relasi Al-Qur’an Dengan Budaya Lokal Bugis Dalam Tafsir Al-Munir Karya Daud Ismail (Studi Kasus Di Desa Tajo-Lamasewanua, Kec. Majauleng, Kab. Wajo)

  • Ita Sulfiani Universitas Islam Makassar, Indonesia
  • Muhammad Irsyad Universitas Islam Makassar, Indonesia
  • Alwis Universitas Islam Makassar, Indonesia

Abstract

Abstract:

The presense of culture due to the interaction between the Muslim community and its holy book, the Qur’an, has always experienced dynamic development. One of the successes of scholars in spreading Islam is through a persuasive approuch to their society through cultural acculturation. The purpose of this study is to determine how the Qur’an and Daud Ismail’s views on local Bugis culture (tradition) in the Tafsir Al-munir. To determine the views and correlation on mabbarazanji culture. To determine the application of mabbarazanji culture in the community in Tajo-Lamasewanua Village, Majauleng District, Wajo Regency. This study uses a qualitative method. Tafsir Al-Munir by AG. KH. Daud Ismail is a concrete manifestation of the integration between the universal teachings of the Qur'an and local Bugis culture. Through writing in he Bugis language and Lontara script, this interpretation is not only a medium for understanding Islam, but also a means of cultural preservation. Local traditions such as Mabbarazanji are seen as aligned with Islamic values because they strengthen faith, morals, and belief. AG. KH. Daud Ismail's approach to culture was selective—culture that aligns with Islam is preserved, while conflicting elements, such as polytheism, are rejected. This demonstrates that Islamic preaching can be conducted contextually and culturally without losing cultural identity. The Mabbarazanji radition, still preserved by the Tajo-Lamasewanua Village community, serves as strong evidence that local culture continues to play a vital role in the social and religious life of the community.

Abstrak:

Hadirnya budaya akibat adanya interaksi antara komunitas muslim dengan Kitab sucinya, Al-Qur’an senantiasa mengalami perkembangan yang dinamis. Salah satu keberhasilan ulama dalam penyebaran Islam yaitu dengan pendekatan persuasif terhadap masyarakatnya melalui dengan akulturasi budaya. Tujuan penelitian ini yaitu Untuk mengetahui bagaimana pandangan Al-Qur’an serta pandangan Daud Ismail terhadap budaya local (tradisi) Bugis dalam Tafsir Al-Munir. Untuk mengetahui pandangan dan korelasi Al-Qur’an pada kebudayaan mabbarazanji. Untuk mengetahui penerapan budaya mabbarazanji pada masyarakat di Desa Tajo-Lamasewanua, Kec. Majauleng, Kab. Wajo. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif. Tafsir Al-Munir karya AG. KH. Daud Ismail merupakan wujud nyata integrasi antara ajaran universal Al-Qur’an dengan budaya lokal Bugis. Melalui penulisan dalam bahasa Bugis dan aksara Lontara, tafsir ini tidak hanya menjadi media pemahaman keislaman, tetapi juga sarana pelestarian budaya. Tradisi lokal seperti Mabbarazanji dipandang selaras dengan nilai-nilai Islam karena mampu memperkuat aqidah, akhlak, dan keimanan. Pendekatan AG. KH. Daud Ismail terhadap budaya bersifat selektif—budaya yang sejalan dengan Islam dilestarikan, sementara unsur yang bertentangan seperti kesyirikan ditolak. Hal ini menunjukkan bahwa dakwah Islam dapat dilakukan secara kontekstual dan kultural tanpa menghilangkan identitas budaya. Tradisi Mabbarazanji yang masih dilestarikan masyarakat Desa Tajo-Lamasewanua menjadi bukti kuat bahwa budaya lokal tetap memiliki peran penting dalam kehidupan sosial dan keagamaan masyarakat.

Kata Kunci:

Budaya, Bugis, Tafsir, Tradisi.

Published

2025-12-02

Issue

Section

Articles